Minggu, 21 Oktober 2018 - 0 komentar

HUBUNGAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
            Ilmu pengetahuan dan agama adalah dua entitas yang menduduki posisi penting dalam filsafat ilmu. Keduanya merupakan objek yang menarik untuk diperbincangkan. Posisi kedua cabang disiplin ilmu tersebut saling memberikan nilai positif dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan dan kemanusiaan. Hal itu disebabkan oleh fitrah manusia sebagai mahluk berfikir yang selalu menghendaki rasionalitas. Manusia juga mengalami dan menyaksikan problema-problema yang terkait dengan dimensi-dimensi misteri dalam kehidupan yang tidak dapat dipecahkan kecuali dengan merujuk pada agama, sehingga eksistensi agama sebagai sistem kepercayaan yang mengharuskan adanya kebenaran, juga sebagai tindakan praktis terhadap aplikasi kepercayaan (iman) yang telah diakui kebenaraanya melalui metodologi ilmu pengetahuan yang telah disepakati kebenarannya. Makalah ini berfokus pada ilmu pengetahuan, agama serta hubungan ilmu pengetahuan dan agama.
1.2    Rumusan Masalah
            Rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1.        Apa yang dimaksud dengan pengetahuan?
2.        Apa yang dimaksud dengan agama?
3.        Bagaimana hubungan agama dengan ilmu pengetahuan?
1.3    Tujuan Makalah
Tujuan dalam makalah ini adalah untuk
1.        Menjelaskan pengertian pengetahuan.
2.        Menjelaskan pengertian agama.
3.        Menjelaskan hubungan agama dengan ilmu pengetahuan.
1.4    Manfaat Makalah
Makalah ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang ilmu pengetahuan, agama serta hubungan ilmu pengetahuan dan agama.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pengetahuan
Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified tru blief).  Pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam perstiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki objek didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
Menurut Latif (2017: 180) pengetahuan (knowledge) yaitu sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman, berdasarkan panca indra dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pengetahuan masih dalam tataran indrawi dan spontanitas belum ditata melalui metode yang jelas. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian pengetahuan  yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada objek.
Menurut Zar (dalam Latif 2017: 168) pengetahuan memiliki beberapa definisi yaitu:
1.      Pengetahuan yang bukan berdasarkan hasil usaha aktif manusia. Pengetahuan ini diperoleh manusia lewat wahyu Allah SWT. Manusia menerima kebenaran wahyu lewat keimanan dalam hatinya.
2.      Pengetahuan yang berdasarkan hasil usaha aktif manusia. Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan indra, yaitu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman sehari-hari, seperti air yang mengalir ke tempat yang rendah, gaya grativitasi bumi.
3.      Pengetahuan yaitu segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obek tertentu, termasuk di dalamnya ilmu, seni, dan agama.
Pengetahuan dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu:
1)      Pengetahuan non ilmiah
Pengetahuan non ilmiah disebut juga dengan pengetahuan prailmiah, yaitu segenap hasil pemahaman manusia terhadap sesuatu objek tertentu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari sebagai produk dari panca indera, termasuk pemahaman yang diperoleh secara gaib dan secara intuisi.
2)      Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan ilmiah ialah segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Menurut Salam (2003:8) pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman yang disusun dalam satu sistem untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari.
B.       Pengertian Agama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama berarti ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang berarti berantakan, jadi kata “agama” adalah tidak berantakan atau dalam artian lain bearti teratur, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Ternyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal dari bahasa Latin rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Agama memang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaan agama memang mem-punyai sifat mengikat bagi manusia. Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama.
Dalam bahasa Arab, kata Agama disebut dengan “al-Din” yang terambil dari akar kata “Da-na-Yadi-nu” yang berarti : (1). Cara atau adat kebiasaan; (2). Peraturan; (3). Undang-undang; (4). Ta’at atau patuh; (5). Menunggalkan Tuhan; (6).Pembalasan; (7). Perhitungan; (8). Hari kiamat; dan (9). Nasihat.
Bila dilihat dengan seksama istilah-istilah itu bermuara kepada satu fokus yang disebut ikatan. Dalam agama terkandung ikatan-ikatan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap manusia, dan ikatan itu mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Ikatan itu bukan muncul dari sesuatu yang umum, tetapi berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.
Harun Nasution mengemukakan delapan definisi untuk  agama, yaitu:
1.      Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan  gaib  yang harus dipatuhi.
2.      Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang me-nguasai manusia.
3.      Mengikatkan diri kepada suatu bentuk hidup yang me-ngandung pengakuan pada  suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbu-atan-perbuatan  manusia.
4.      Kepercayaan kepada sesuatu ikatan gaib yang menim-bulkan cara hidup tertentu.
5.      Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
6.      Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasal dari suatu kekuatan gaib.
7.      Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8.      Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang  Rasul.
Definisi yang dikemukakan Harun Nasution dapat disederhanakan menjadi dua definisi saja. Dari nomor 1 sampai 7 dapat diketahui bahwa agama berkaitan dengan keterikatan manusia dengan kekuatan gaib yang lebih ting-gi dari manusia yang mendorong manusia untuk berbuat baik, bisa yang berkekuatan gaib itu dewa-dewa, atau roh-roh yang dipercayai mempunyai kekuasaan luar biasa melebihi dari dirinya, sekalipun pada hakikatnya yang dipercayai itu adalah benda mati seperti berhala dalam zaman Jahiliah. Adapun definisi nomor 8 terfokus kepada agama wahyu yang diturunkan melalui nabi-nabi. Jika disimpulkan, definisi-definisi agama itu menunjuk kepada kuatan gaib yang ditakuti, disegani oleh manusia, baik oleh kekuasaan maupun karena sikap pemarah dari yang gaib itu.
Dari delapan difinisi di atas dapat diklasifikasikan bahwa terdapat empat hal penting dalam setiap agama, yaitu :
Pertama, kekuatan gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Oleh sebab itu, manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Hubungan baik itu dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
Kedua keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidup akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib itu. Dengan hilangnya hubungan baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan, yang dicari akan hilang pula.
Ketiga respon yang bersifat emosionil dari manusia. Respon itu bisa berupa rasa takut seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif, atau perasaan cinta seperti yang terdapat dalam agama-agama monoteisme. Selanjutnya respon mengambil bentuk penyembahan yang terdapat di dalam agama primitif, atau pemujkaan yang terdapat dalam agama menoteisme.
Keempat paham adanya yang kudus (sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama itu dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.
Dari berbagai defenisi di atas, baik itu agama, religion, dan din tidak mudah untuk diberikan defenisi atau dilukiskan, karena agama, religion, dan din mengambil beberapa bentuk dan bermacam-macam di antara suku-suku dan bangsa-bangsa di dunia. Agama berbeda dengan filsafat dan sains karena agama menekankan keterlibatan pribadi. Walaupun kita dapat sepakat bahwa tidak ada defenisi agama yang dapat diterima secara universal, namun semua orang mengira bahwa sepanjang sejarah, manusia telah menunjukkan rasa “suci” dan agama adalah termasuk dalam kategori “hal yang suci” tersebut. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tak terbatas yang ia berikan kepada objek yang ia sembah. Seorang yang religious merasakan adanya kewajiban yang tak bersyarat terhadap zat yang ia anggap sebagai sumber yang tertinggi bagi depribadian dan kebaikan.
Pembagian Agama
Agama-agama yang tumbuh dan berkembang di muka bumi, sesuai dengan asalnya, dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, agama wahyu (revealed-religion), disebut juga agama samawi karena diturunkan oleh Allah dari samawi (langit) dengan perantaraan malaikat jibril yang membawa wahyu allah kepada para nabi dan rasul untuk selanjutnya disampaikan kepada umatnya. Adapun yang tergolong agama wahyu tersebut seperti, Islam, Kristen (nasrani) dan Yhudi. Kedua, agama non-wahyu atau agama kebudayaan (agama bumi), yaitu agama yang dibangun berdasarkan kreasi manusia atau lahirnya berdasarkan kebudayaan manusia. Secara historis agama bumi pada awalnya diciptakan oleh filsuf-filsuf masyarakat sebagai ahli pikir dan pemimpin dari golongan masyarakat itu. Adapun yang tergolong agama non-wahyu antara lain, Hinduisme, Jainisme, Sikhisme dan sebagainya.
Ciri-ciri Agama
Adapun ciri-ciri umum agama di dunia berdasarkan pengertian dan pembagian agama yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Agama merupakan suatu sistim tauhid atau keimanan/keyakinan terhadap eksistensi sesuatau yang absolut (mutlak) di luar diri manusia yang merupakan Causa-Prima atau penyebab pertama daripada segala sesuatu termasuk dunia itu dengan segala isinya.
2.      Agama merupakan suatu sistem ritual atau peribadatan/penyembahan dari manusia kepada sesuatu yang diberi predikat absolut (mutlak) atau causa-Prima itu.
3.      Agama merupakan suatu sistem nilai (value sytem) atau sistem norma/kaidah yang menjadi pola hubungan manusiawi antara sesama manusia dan pola hubungan dengan ciptaan lainnya dari yang absolut (mutlak) atau causa-Prima dengan sistem tauhid dan sistem ritual tersebut.
Manfaat Agama bagi Manusia
Terlepas daripada bentuk atau tipe agama, apakah agama wahyu ataupun agama hasil pemikiran manusia, kenyataannya manusia di dunia ini akan menjadi penganut atau pengikutnya yang setia. Manusia menjadi pennganut yang setia dari suatu agama, karena menurut kepercayaannya telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupannya, yang tidak dapat diuji dengan pengalaman maupun akal seperti halnya dengan menguji kebenaran ilmu dan filsafat. Karena agama lebih banyak meenyangkut perasaan dan keyakinan.
Agama wahyu akan memiliki kesempurnaan yang mutlak karena nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya berasal dari Tuhan. Agama dapat menjadi petunjuk, pegangan serta pedoman hidup bagi manusia dalam menempuh hidupnya dengan harapan penuh keamanan, kedamaian dan kesejahteraan. Mesipun agama animisme dan dinamisme pada zaman prasejarah berisi kepercayaan tahayul, namun juga memberikan mmanfaat bagi manusia pada zamnnya. Diantaranya (1) mengurangi kejahatan, (2) mengurangi tindak pidana, (3) mengurangi dan menumpulkan syahwat kemanusiaannya, (4) membahagiakan dan menyenangkan manusia. Itu semua terjadi karena memang manusia mempercayai adanya kekuasaan yang lebih besar daripada dirinya dan percaya bahwa adanya kehidupan abadi setelah kehidupan di dunia.
C.      Hubungan Agama dan  Ilmu Pengetahuan
Ilmu sebagai kesesuaian akal dan kenyataan, mengisyaratkan bahwa ilmu bukanlah pengetahuan biasa, tetapi merupakan pengetahuan yang telah di uji kebenarannya berdasarkan nalar dan bukti-bukti fisik empiris. Dengan kata lain ilmu memiliki kriteria yang tidak berbeda dengan pengetahuah yang terorganisir.  Hanya saja, ilmu memiliki ruang lingkup yang telah luas yang melampaui sains. Sains hanya dibatasi bidang-bidang empiris positif, sementara ilmu melampauinya dengan memasukkan bidang nonempiris, sepeti matematika dan metafisika.
            Agama dan ilmu dalam beberapa hal berbeda, tetapi pada sisi tertentu memiliki persamaan. Agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi ritual, cenderung ekslusif dan subjektif. Sementara ilmu selalu mencari yang baru, tidak selalu terkait dengan etika, bersifat inklusif dan objektif. Ealupun agama dan ilmu berbeda, keduanya memiliki persamaan yaitu: bertujuan member ketenagan dan kemudahan bagi manusia.
            Untuk lebih jelasnya persamaan antara ilmu dan agama Salam (2003:184) berpendapat bahwa:
1.      Baik ilmu pengetahuan maupun agama merupakan sumber atau wadah kebenaran atau bentuk pengetahuan
2.      Dalam pencarian kebenaran itu ilmu dan agama masing-masing mempunyai metode, system dan mengolah objeknya selengkapnya sampai habis-habisan.
3.      Ilmu pengetahuan bertujuan mencari kebenaran tentang manusia, alam, dan eksistensi tuhan atau Allah. Agama bertujuan untuk kebahagiaan umat manusia dunia akhirat dengan menunjukkan kebenaran asasi dan mutlak baik mengenai manusia alam amupun tuhan itu sendiri.
Disamping itu Salam (2003:184) juga berpendapat bahwa terdapat beberapa perbedaan antara agama dan ilmu yaitu:
1.      Sumber kebenaran pengetahuan dari manusia itu sendiri dalam arti pikiran, pengalaman dan intuisinya. Oleh karena itu disebut juga bersifat orizontal. Sedangkan sumber kebenaran agama adalah dari Tuhan di langit, karena itu disebut juga bersifat vertical.
2.      Pendekatan kebenaran ilmu pengetahuan dengan jalan riset, pengalaman dan percobaan sebagai tolak ukurnya. Sedangkan pendekatan kebenaran agama dengan jalan berpaling pada wahyu Tuhan yang di kodifikasikan dalam kitab suci Taurat, Injil dan Al-Quran.
3.      Sifat kebenaran ilmu pengetahuan adalah positif dan relatif. Sedangkan sifat kebenaran agama adalah mutlak karena bersumber dari zat yang maha benar, maha mutlak dan maha sempurna serta maha bijaksana dengan keimanan dan keyakinan.
4.      Tujuan ilmu pengetahuan hanyalah bersifat teoritis, demi ilmu pengetahuan dan umumnya pengalamannya untuk tujuan ekonomi praktis atau kenikmatan jasmani manusia. Sedangkan tujuan agama adalah kedamaian, keharmonisan, kebahagiaan keselamatan, keselarasan, dan keridhoan.
Jika agama membincangkan tentang eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas bagaimana mungkin agama bertentangan dengan ilmu dan filsafat. Bahkan agama dapat menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian ilmu maupun filsafat. Pertimbangan-pertimbangan filsafat berkaitan dengan keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi agama hanya akan sesuai dan sejalan apabila seorang penganut agama senantiasa menuntut dirinya untuk berusaha memahami dan menghayati secara rasional seluruh ajaran, doktrin, keimanan dan kepercayaan agamanya. Dengan demikian, ilmu dan filsafat tidak lagi dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran ajaran agama.Walaupun hasil-hasil penelitian rasional ilmu dan filsafat tidak bertolak belakang dengan agama, tapi selayaknya sebagian penganut agama justru bersikap proaktif dan melakukan berbagai pengkajian dalam bidang filsafat sehingga landasan keimanan dan keyakinannya semakin kuat dan terus menyempurnan, bahkan karena motivasi keimananlah mendorongnya melakukan observasi dan pembahasan filosofis yang mendalam terhadap ajaran-ajaran agama itu sendiri dengan tujuan menyingkap rahasia dan hakikatnya yang terdalam. Dengan satu ungkapan dapat dikatakan bahwa filosof agama mestilah dari penganut dan penghayat agama itu sendiri. Lebih jauh, filosof-filosof hakiki adalah pencinta-pencinta agama yang hakiki. Sebenarnya yang mesti menjadi subyek pembahasan di sini adalah agama mana dan aliran filsafat yang bagaimana memiliki hubungan keharmonisan satu sama lain. Adalah sangat mungkin terdapat beberapa ajaran agama, karena ketidaksempurnaannya, bertolak belakang dengan kaidah-kaidah filsafat, begitu pula sebaliknya, sebagian konsep-konsep filsafat yang tidak sempurna berbenturan dengan ajaran agama yang sempurna. Karena asumsinya adalah agama yang sempurna bersumber dari hakikat keberadaan dan mengantarkan manusia kepada hakikat itu, sementara ilmu dan filsafat yang berangkat dari rasionalitas juga menempatkan hakikat keberadaan itu sebagai subyek pengkajiaannya, bahkan keduanya merupakan bagian dari substansi keberadaan itu sendiri. Keduanya merupakan karunia dari Tuhan yang tak dapat dipisah-pisahkan. Filsafat membutuhkan agama (wahyu) karena ada masalah-masalah yang berkaitan dengan dengan alam gaib yang tak bisa dijangkau oleh akal filsafat dan ilmu. Sementara agama juga memerlukan ilmu dan filsafat untuk memahami ajaran agama. Berdasarkan perspektif ini, adalah tidak logis apabila ajaran agama, ilmu pengetahuan dan filsafat saling bertolak belakang.

BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Pengetahuan yaitu sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman, berdasarkan panca indra dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pengetahuan masih dalam tataran indrawi dan spontanitas belum ditata melalui metode yang jelas. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian pengetahuan  yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada objek. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman yang disusun dalam satu system untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajar.
Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dan juga agama lebih mengedepankan moralitas dan menjaga tradisi ritual.
Ilmu pengetahuan dan agama mempunyai hubungan satu sama lain. Yaitu keduanya dapat digunakan untuk memecahkan masalah pada manusia. Karena setiap masalah yang di hadapi hadapi oleh manusia sangat bermcam-macam. Ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan agama seperti contohnya cara kerja mesin yang dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dimulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya. Sedangkan agama dimulai dengan sikap percaya dan iman.

3.2  Saran
Berdasarkan simpulan di atas, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk meningkatkan pemahaman tentang ilmu pengetahuan, agama serta hubungan keduanya guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam bidang filsafat ilmu. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun tentunya mangalami banyak kekeliruan dan kesalahan baik dalam ejaan, pilihan kata, sistematika penulisan maupun penggunaan bahasa yang kurang dipahami. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar selanjutnya makalah yang akan penyusun sajikan bisa lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Latif, Mukhtar. 2017. Orientasi Ke Arah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.
Salam, Burhanuddin. 2003. Pengantar Filsafat. Jakarta : PT Bina Aksara







0 komentar:

Posting Komentar