BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian
yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan data
statistik atau cara-cara kuantitatif (pengukuran). Penelitian kualitatif
digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku,
fungsionalisasi organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain. Pada
umumnya, penelitian kualitatif bertujuan untuk menggali informasi
secara lebih mendalam, menjawab pertanyaan mengapa, memungkinkan untuk
mendapatkan hal-hal yang tersirat, mendapatkan suatu hipotesa, dan sebagainya. Dalam
pendekatan kualitatif para peneliti dituntut menemukan dan memahami apa yang
tersembunyi di balik fenomena yang kadang kala merupakan sesuatu yang sulit
untuk dipahami secara memuaskan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek
penelitian misalnya perilaku, cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa,
pada suatu konteks khusus yang alamiah, dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah. Jenis-jenis penelitian
kualitatif di antaranya adalah biografi, fenomenologi, Grounded theory,
etnografi, dan studi kasus.
Etnografi merupakan salah satu dari sekian pendekatan dalam penelitian
kualitatif. Dalam tradisi
penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, etnografi dikenal sebagai
salah satu tradisi kualitatif selain penelitian biografi, fenomenologi, grounded
research, dan studi kasus. Penelitian etnografi diidentikan dengan kerja
antropologi, dengan dasar selain sebagai founding father, penentu cikal bakal
lahirnya antropologi, juga karena karakter penelitian etnografi yang mengkaji
secara alamiah individu dan masyarakat yang hidup dalam situasi budaya
tertentu. Oleh karena itu pula, etnografi dikenal sebagai naturalistic inquiry.
Etnografi adalah uraian dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok
sosial. Peneliti menguji kelompok tersebut dan mempelajari pola perilaku,
kebiasaan dan cara hidup. Etnografi adalah sebuah proses dan hasil dari sebuah
penelitian. Sebagai sebuah proses, etnografi melibatkan pengamatan yang cukup panjang
terhadap suatu kelompok sehingga peneliti memahami betul bagaimana kehidupan
keseharian subjek penelitian tersebut. Hal ini tampak ketika
peneliti mengumpulkan data melalui (participant observation, life history). yang kemudian diperdalam dengan indepth interview terhadap masing-masing
individu dalam kelompok tersebut. Dengan demikian penelitian etnografi
menghendaki etnografer /peneliti : (1) mempelajari arti atau makna dari setiap
perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok dalam situasi budaya
tertentu, (2) memahami budaya atau aspek budaya dengan memaksimalkan observasi
dan interpretasi perilaku manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya, (3)
menangkap secara penuh makna realitas budaya berdasarkan perspektif subjek
penelitian ketika menggunakan simbol-simbol tertentu dalam konteks budaya yang
spesifik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.
Apakah pengertian penelitian etnografi ?
2.
Apakah jenis-jenis atau tipe
rancangan etnografi?
3.
Apakah-ciri-ciri penelitian
etnografi?
4.
Apakah masalah etik potensial
penelitian etnografi?
5.
Bagaimana langkah-langkah penelitian etnografi ?
6.
Apakah kriteria dalam
mengevaluasi penelitian etnografi?
7.
Apakah kelebihan dan kekurangan
penelitian etnografi?
1.3 Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikut.
1.
Mendefinisikan pengertian penelitian etnografi.
2.
Menjelaskan jenis-jenis atau tipe
rancangan etnografi.
3.
Menjelaskan ciri-ciri penelitian
etnografi.
4.
Menjelaskan masalah etik
potensial penelitian etnografi.
5.
Menjelaskan langkah-langkah penelitian etnografi.
6.
Menjelaskan kriteria dalam mengevaluasi
penelitian etnografi.
7.
Menjelaskan kelebihan dan
kekurangan penelitian etnigrafi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Etnografi
Metode
penelitian etnografi termasuk dalam metode penelitian kualitatif. Kata
etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos yang
artinya suku bangsa dan graphos yang artinya sesuatu yang
ditulis. Secara harfiah, istilah etnografi
berarti menulis tentang kelompok orang yang berarti etnografi adalah gambaran umum suatu budaya atau kebiasaan, keyakinan, dan perilaku yang berdasarkan atas informasi yang telah dikumpulkan melalui
penelitian lapangan.
Menurut Frankham (dalam
Somekh and Lewin, 2011: 34) etnografi adalah sebuah metodologi yang menjadi
ciri khas dari antropologi di mana peneliti melakukan studi lapangan dengan
melakukan observasi dan wawancara, serta menjadi bagian di tengah-tengah
sekelompok masyarakat untuk memahami kebudayaan dari masyarakat yang diteliti
tersebut.
Hammersley (dalam Emzir, 2008: 145) menguraikan bahwa etnografi merupakan suatu metode
penelitian ilmu sosial. Penelitian ini sangat percaya pada ketertutupan (up close), pengalaman pribadi, dan partisipasi yang mungkin,, tidak hanya pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Para etnografer
ini sering bekerja dalam tim yang multidisipliner. Titik fokus (focal point) etnografi
dapat meliputi
studi intensif budaya dan bahasa, bidang atau domain tunggal, serta gabungan metode historis, observasi, dan wawancara. Metode etnografi khusus menggunakan tiga macam pengumpulan data
wawancara, observasi, dan dokumen. Ini pada gilirannya menghasilkan tiga jenis
data: kutipan, uraian, dan kutipan dokumen, menghasilkan dalam sutu produk:
uraian naratif. Uraian naratif ini sering meliputi tabel, diagram, dan artefak
tambahan yang membantu penceritaan (to tell “the story”).
Pada awalnya etnografi berakar pada
bidang antropologi dan sosiologi. Namun para praktisi dewasa ini melaksanakan
penelitian etnografi dalam segala bentuk. Ahli etnografi melakukan studi
persekolahan, kesehatan masyarakat, perkembangan pedesaan dan perkotaan, konsumen dan barang konsumsi, serta arena manusia mana pun.
Menurut Creswell (2015:932) Metode etnografi adalah prosedur penelitian
kualitatif untuk menggambarkan, menganalisa, dan menafsirkan unsur-unsur dari sebuah
kelompok budaya, seperti pola perilaku, kepercayaan, dan bahasa yang berkembang
dari waktu ke waktu. Fokus dari penelitian ini adalah budaya. Menurut LeCompte dkk (dalam Creswell,
2015:932) budaya adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan perilaku manusia dan keyakinan. Termasuk di dalamnya adalah bahasa,
ritual, ekonomi dan struktur politik, tahapan kehidupan, interaksi, dan gaya
komunikasi. Menurut Ikbar, budaya memiliki unsur-unsur yang universal yang
saling berkaitan satu sama lainnya dalam membentuk corak kebudayaan secara
keseluruhan sesuai dengan potensi, fungsi, dan sifat dari unsur-unsur bahasa
dan hubungan di antara unsur-unsur tersebut. Unsur-unsur univesal kebudayaan
mencakup, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem religi, sistem kekerabatan
dan organisasi sosial, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, dan sistem
kesenian (2012: 68). Untuk memahami pola kelompok berbudaya-sama, etnografer
biasanya menghabiskan waktu yang cukup banyak “di lapangan” untuk mewawancarai,
mengobservasi, dan mengumpulka berbagai dokumen tentang kelompok untuk memahami
perilaku, keyakinan, dan bahasa berbudaya-sama mereka.
Penelitian etnografi pekerjaan utamanya
mendeskripsikan suatu kebudayaan. Etnografi adalah upaya memperhatikan
penelitian budaya untuk memahami cara masyarakat/orang berinteraksi dan bekerja
sama melalui fenomena yang teramati dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti selain
mengamati kehidupan sehari-hari juga melakukan wawancara mendalam, observasi
dan telaah dokumen. Inti dari etnografi adalah upaya memerhatikan makna
tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa
makna ini terekspresikan secara langsung dalam bahasa (Spradlay, 2007:7).
Berdasarkan uraian tentang pengertian etnografi di atas, dapat
disimpulkan penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang meneliti
kehidupan suatu kelompok atau masyarakat secara ilmiah yang bertujuan
untuk mempelajari, mendeskripsikan, menganalisis, dan menafsirkan pola
budaya suatu kelompok tersebut dalam hal perilaku, kepercayaan, bahasa,
dan pandangan yang dianut bersama.
2.2 Sejarah
Perkembangan Penelitian Etnografi
Etnografi yang dipraktikkan di dalam dunia pendidikan
telah dibentuk oleh antropologi budaya, dengan penekanan pada isu-isu terkait
dengan penulisan budaya dan bagaimana laporan-laporan etnografis perlu dibaca
dan dipahami saat ini. Faktor-faktor ini merupakan jantung bagi pemahaman
praktek-praktek terkini dalam etnografi (Bogdan & Biklen, 1998: Denzin,
1997: LeCompte et al., 1993: Walcott, 1999, dalam Creswell, 2015:934).
Akar dari etnografi pendidikan terletak pada antropologi budaya.
Pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, para antropolog mengkaji
budaya-budaya “primitif” melalui kunjungan-kunjungan ke negara-negara lain dan
berkumpul dengan masyarakatnya untuk periode waktu yang lama. Mereka
menghindarkan diri dari “menjadi natif “ (penduduk asli) dan
mengidentifikasikan diri mereka secara dekat sekali dengan orang-orang
yang mereka teliti sehingga mereka bisa menulis sebuah kisah yang “objektif”
tentang apa yang mereka lihat dan dengar. Pada waktu-waktu tertentu,
kisah-kisah ini dibandingkan dengan budaya-budaya lain yang jauh di benua lain,
terutama dengan cara-cara hidup orang Amerika. Contoh, Margareth Mead, seorang
antropolog terkemuka, mengkaji pengasuhan anak, remaja, dan pengaruh budaya
terhadap kepribadian di Samoa (Mead, dalam Creswell, 2015:934).
Observasi dan wawancara menjadi prosedur standar dalam
pengumpulan data “di lapangan”. Para sosiolog
di Universitas Chicago pada tahun 1920-an sampai 1950-an, melakukan penelitian yang difokuskan pada pentingnya penelitian tentang kasus tunggal –
apakah kasusnya tentang seseorang individu, kelompok, tetangga, atau unit
budaya yang lebih besar.
Bidang kajian antropologi pendidikan interdisiplin yang
masih awal ini mulai mengkristal
selama tahun 1950-an dan berlanjut sampai tahun 1980-an (LeCompte dkk, dalam Creswell, 2015:933). Para antropolog pendidikan memfokus diri mereka pada
sub kelompok budaya, seperti diuraikan
sebagai berikut.
a) Kisah perjalanan karier dan kehidupan atau analisis peran
individu.
b) Microetnografis tentang kelompok-kelompok kerja dan kelompok-kelompok
hobi dalam skala kecil.
c) Kajian-kajian terhadap kelas-kelas tunggal yang diabstraksikan
sebagai masyarakat-masyarakat dalam kelompok kecil.
d) Kajian-kajian terhadap fasilitas-fasilitas sekolah atau
fasilitas-fasilitas dinas pendidikan yang mendekati unit-unit ini sebagai
sebuah masyarakat yang diskrit (terpisah) (LeCompte dkk, dalam Creswell, 2015:934).
Dalam penelitian seperti ini, para etnografer pendidikan
mengembangkan dan memperhalus prosedur-prosedur yang dipinjam dari antropologi
dan sosiologi. Dari tahun 1980-an sampai dewasa ini, para antropolog dan
antropolog pendidikan telah mengidentifikasi teknik-teknik guna memberikan
fokus terhadap kelompok budaya, melakukan observasi, menganalisis data,
dan menuliskan laporan penelitian.
Peristiwa yang membatasi etnografi, menurut Denzin (dalam Creswell, 2015:935), para etnografer telah “menulis dengan cara mereka sendiri”
(semenjak itu sesuai dengan isi buku tersebut. Clifford dan Marcus mengangkat
dua buah isu yang sangat menggugah minat banyak orang terhadap etnografi pada
umumnya dan dalam bidang penelitian pendidikan. Pertama terkait dengan krisis
representasi. Krisis ini terdiri dari penilaian kembali tentang bagaimana para
etnografer memberikan interpretasi terhadap kelompok-kelompok yang mereka
teliti. Denzin berargumentasi bahwa kita tidak bisa lagi melihat si peneliti
sebagai reporter yang objektif yang membuat pernyataan-pernyataan yang bersifat
omnipresent (hadir di mana-mana) tentang individu-individu yang dia
teliti. Sebaliknya, si peneliti hanyalah merupakan satu suara dari banyak
suara- individu-individu seperti si pembaca, para partisipan dan gate-keeper (para
penjaga) yang perlu didengar. Ini memicu
krisis kedua: legitimasi. “Dalih-dalih” validitas, reliabilitas dan
objektivitas dari “normal science” tidak lagi bisa mewakili
standar. Para peneliti perlu mengevaluasi masing-masing penelitian etnografi
dalam batas-batas standar yang fleksibel yang melekat pada kehidupan para
partisipan, pengaruh-pengaruh kesejarahan dan budaya; dan kekuatan-kekuatan
interaktif bersumber ras, gender, dan kelas.
Ditilik dari sisi ini, etnografi perlu memasukkan perspektif
yang diramu dari pemikiran-pemikiran feministis,
pandangan-pandangan berbasis ras, perspektif seks, dan teori kritis, dan
sensitif terhadap ras, kelas, dan gender.
Etnografi dewasa ini menjadi “messy” (carut marut) dan akhirnya
menampilkan diri dalam berbagai bentuk seperti (seni) pertunjukan, puisi,
drama, novel, atau narasi pribadi (Denzin dalam Creswell, 2015:935).
2.3 Penggunaan Penelitian
Etnografi
Creswell (2015: 933) menjelaskan bahwa seseorang dikatakan melakukan
penelitian etnografi jika pengkajian tentang kelompok memberikan
pemahaman tentang masalah yang lebih besar. Seseorang melakukan etnografi
ketika memiliki kelompok yang berbudaya yang sama untuk diteliti- kelompok yang
sudah cukup lama bersama-sama dan mengembangkan nilai, keyakinan, dan bahasa
yang sama. Orang tersebut akan menangkap aturan perilaku, misalnya ketika guru
melakukan hubungan informal berkumpul di tempat favorit untuk bersosialisasi.
Etnografi mampu memberikan informasi rinci tentang aktivitas sehari-hari, misalnya pemikiran dan aktivitas
komite untuk mencari kepala sekolah baru (Wolcot, dalam Creswell, 2015:933) . Ketika melakukan peneltian etnografi,
peneliti memiliki akses ke kelompok berbudaya-sama sehingga peneliti dapat
membangun catatan terperinci tentang perilaku dan kepercayaan mereka dari waktu
ke waktu. Peneliti dapat menjadi partisipan dalam kelompok atau sekadar menjadi
pengamat, tetapi mengumpulkan catatan
lapangan ekstensif, wawancara banyak orang, dan mengumpulkan surat-surat serta
berbagai dokumen untuk memantapkan catatan tentang kelompok berbudaya-sama
tersebut.
2.4 Asumsi Dasar
Penelitian Etnografi
Cakupan penelitian etnografi bersumber pada budaya dan observasi serta
melakukan wawancara merupakan standar dasar pada penelitian etnografi maka
perlu kiranya dikembangkan beberapa asumsi yang menjadi dasar utama peneliti
sebelum melakukan penelitian.
Beberapa asumsi yang menjadi dasar penelitian etnografi adalah
sebagai berikut.
1. Etnografi mengasumsikan kepentingan penelitian yang prinsip
utamanya dipengaruhi oleh pemahaman kultural masyarakat.
2. Penelitian
etnografi mengasumsikan suatu kemampuan mengidentifikasi masyarakat yang relevan
dengan kepentingannya.
3. Dengan penelitian
etnografi peneliti diasumsikan mampu memahami kelebihan kultural dari
masyarakat yang diteliti, menguasai bahasa atau jargon teknis dari kebudayaan
tersebut dan memiliki temuan yang didasarkan pada pengetahuan komprehensif dari
budaya tersebut.
4. Sementara tidak inheren
bagi metode, penelitian etnografi lintas budaya yang menghidari risiko asumsi
yang keliru bahwa pengukuran yang ada memiliki makna yang sama lintas budaya
(Emzir, 2008: 148-149)
Lebih lanjut, Gall menyatakan peneliti etnografi setidaknya
memiliki beberapa pandangan tentang lintas budaya yang menjadi objek
penelitiannya di antaranya : 1) Ethnology: mencakup
teori-teori dasar budaya yang merupakan data pembanding dari beberapa
budaya yang berbeda. 2) Pemerolehan budaya yang memfokuskan diri pada
konsep, nilai-nilai budaya, kemampuan, dan tingkah laku yang merupakan budaya
umum yang terjadi pada masing-masing kebudayaan. 3) Pergeseran budaya yang fokus
pada penelitian tentang seberapa besar struktur sosial mengintervensi kehidupan
seseorang dalam suatu kasus tertentu.
2.5 Prinsip-Prinsip
Metodologi Penelitian Etnografi
Penelitian etnografi merupakan
penelitian terperinci yang dapat menggambarkan suatu kegiatan, kejadian yang
biasa terjadi sehari-hari pada suatu komunitas tertentu. Ini merupakan dasar
kekuatan penelitian etnografi yang memberikan gambaran utuh tentang apa yang
terjadi di lapangan. Berbeda halnya dengan penelitian kuantitatif yang
menangkap kebenaran hakikat perilaku sosial di masyarakat dengan sandaran studi
latar artifisial atau pada apa yang dikatakan orang bukan melihat dan terjun
secara langsung mempelajari apa yang dilakukan oleh obyek penelitian tersebut.
Hammersley (dalam Emzir, 2012:
149-152) menyatakan tiga prinsip metodologis yang digunakan dalam corak metode
etnografi di antaranya sebagai berikut.
a.
Naturalisme.
Ini menggambarkan bahwa penelitian etnografi yang dijalankan bertujuan untuk
menangkap suatu karakter yang muncul secara alami dan didapatkan melalui kontak
langsung, bukan melalui interfensi atau rekayasa eksperimen.
b.
Pemahaman.
Yang menjadi landasan utama di sini
adalah bahwa tindakan manusia berbeda dari perilaku objek fisik. Tindakan tersebut tidak hanya tanggapan
stimulus namun juga interpretasi terhadap suatu stimulus. Untuk itu meneliti
latar budaya yang lebih dikenal lebih baik dari pada meneliti yang masih asing
agar terhindar dari resiko kesalahpahaman budaya.
c.
Penemuan: Penelitian
etnografi merupakan penelitian yang didasari oleh penemuan sang peneliti. Ini
merupakan bentuk otentik sebuah penelitian di mana suatu fenomena dikaji tidak hanya berdasar pada serangkaian
hipotesis yang mungkin bisa saja terjadi kegagalan namun menjadi nyata setelah
dibutakan oleh asumsi yang dibangun ke dalam hipotesis tersebut.
2.6
Tipe-tipe Rancangan Etnografi
Menurut Creswell (2015: 938) penelitian
etnografi memiliki beragam bentuk. Akan tetapi, jenis utama yang sering muncul
dalam laporan-laporan penelitian pendidikan adalah etnografi realis, studi
kasus, dan etnografi kritis.
2.6.1
Etnografi Realis
Etnografi
realis adalah pendekatan yang populer digunakan oleh para antropolog budaya. Dijelaskan
oleh Van Maanen dalam Creswell (2015: 938) etnografi merefleksikan sikap
tertentu yang diambil oleh peneliti terhadap individu yang sedang
dipelajari. Etnografi realis adalah pandangan objektif terhadap situasi,
biasanya ditulis dalam sudut pandang orang ketiga, melaporkan secara objektif
mengenai informasi yang dipelajari dari para objek penelitian di lokasi (Creswell, 2015:938). Dalam etnografi realis ini:
a. Etnografer menceritakan penelitian dari sudut
pandang orang ketiga,laporan pengamatan partisipan, dan
pandangan mereka. Etnografer tidak menuliskan pendapat pribadinya dalam
laporan penelitian dan tetap berada di
belakang layar sebagai reporter yang meliput tentang fakta-fakta yang ada.
b. Peneliti melaporkan data objektif dalam sebuah bentuk informasi yang
terukur, tidak terkontaminasi oleh bias, tujuan politik, dan penilaian pribadi. Peneliti dapat menggambarkan kehidupan sehari-hari secara detail
antara orang-orang yang diteliti. Etnografer juga menggunakan kategori standar
untuk deskripsi budaya (misalnya kehidupan keluarga, kehidupan kerja, jaringan
sosial, dan sistem status).
c. Etnografer menghasilkan pandangan partisipan melalui kutipan yang
diedit tanpa
merubah makna dan memiliki kesimpulan
berupa interpretasi dan penyajian budaya (Van Maanen dalam Creswell, 2015: 938).
2.6.2
Studi Kasus
Istilah
studi kasus sering
digunakan dalam hubungannya dengan
etnografi. Studi kasus merupakan salah satu bagian penting dari etnografi,
meskipun berbeda dari etnografi dalam beberapa hal tertentu. Peneliti studi kasus terfokus
pada program, kejadian, atau kegiatan yang
melibatkan individu dan bukan merupakan kelompok (Stake dalam Creswell, 2015: 935). Saat peneliti
melakukan penelitian kelompok, mereka mungkin lebih tertarik dalam
menggambarkan kegiatan kelompok bukannya mengidentifikasi pola-pola perilaku
yang ditunjukkan oleh kelompok. Para etnografer bersama-sama melakukan pencarian yang berkembang sebagai sebuah kelompok yang berinteraksi dari
waktu ke waktu. Di awal penelitiannya, peneliti cenderung mengidentifikasi
tema budaya. Salah satu perhatian utamanya adalah antropologi, namun mereka hanya
terfokus pada eksplorasi mendalam dari "kasus" yang sebenarnya
(Yin dalam Creswell, 2015: 935).
Menurut Neuman, studi kasus adala sebuah penelitian yang secara
intensif menyelidiki satu atau sehimpunan kecil kasus, berfokus pada setiap
detail dan konteksnya. Ringkasnya, studi kasus menelaah detail
karakteristik internal setiap kasus dan
juga situasi di sekitarnya (2013: 48)
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan
dalam menentukan jenis kasus yang akan dipelajari dalam penelitian kualitatif, antara lain:
a. Apakah
kasus tersebut dialami oleh satu individu, beberapa individu secara terpisah
atau dalam kelompok, program, kegiatan, atau kegiatan (misalnya, guru, beberapa
guru, atau penerapan program matematika baru).
b. Kasus
tersebut merupakan proses yang terdiri dari serangkaian langkah-langkah
(misalnya, proses kurikulum perguruan tinggi) yang membentuk suatu urutan
kegiatan.
c. Sebuah
kasus dipilih untuk diteliti karena itu sesuatu yang tidak biasa dan memberi
manfaat, berikut ini pembagiannya :
1) Kasus
intrinsik (intrinsic case), apabila kasus yang dipelajari secara
mendalam mengandung hal-hal menarik untuk dipelajari berasal dari kasus itu
sendiri, atau dapat dikatakan mengandung minat intrinsik.
2) Kasus
instrumental (instrumental case), apabila kasus yang dipelajari
secara mendalam karena hasilnya akan dipergunakan untuk memperbaiki atau
menyempurnakan teori yang telah ada atau untuk menyusun teori baru. Hal ini
dapat dikatakan studi kasus instrumental, minat untuk mempelajarinya berada di
luar kasusnya atau minat eksternal (external interest).
3) Kasus
kolektif (collective case) adalah di mana beberapa kasus dijelaskan dan dibandingkan dengan memberikan
wawasan tentang masalah. Sebuah studi kasus peneliti mungkin memeriksa beberapa
sekolah untuk menggambarkan pendekatan alternatif untuk pilihan sekolah bagi
siswa.
4) Peneliti
berusaha untuk mengembangkan pemahaman mendalam tentang kasus dengan
mengumpulkan berbagai bentuk data (misal, gambar, kliping, video, dan e-mail).
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman yang mendalam tentang beberapa syarat
kasus yang baik untuk dipelajari, hal tersebut karena peneliti memiliki
keterbatasan waktu untuk mengabdikan serta menjelajahi kedalaman sebuah kasus
yang akan diteliti.
5) Peneliti
juga memandang kasus dalam konteks lebih luas, seperti geografi, politik,
sosial, atau ekonomi (misal, konstelasi keluarga yang terdiri dari kakek-nenek,
saudara kandung, dan mengadopsi anggota keluarga).
Neuman (2013: 48) menyatakan bahwa penelitian studi kasus memiliki
enam kekuatan sebagai berikut.
a.
Validitas
Konseptual. Studi kasus membantu “membuang” dan mengidentifikasi
konsep/variabel yang menjadi minat terbesar dan beralih pada inti mereka atau
makna penting dalam teori abstrak.
b.
Dampak
heuristik. Studi kasus memberikan dampak heuristik, yakni memberikan
pembelajaran lebih lanjut, penemuan, atau pemecahan masalah. Studi kasus
membantu dengan cara membentuk teori baru, mengembangkan atau memperluas
konsep, dan menelaah batasan di antara konsep-konsep terkait.
c.
Indetifikasi
mekanisme kausal. Studi kasus memiliki kemampuan memperjelas detail mengenai
proses dan mekanisme sosial dengan satu faktor yang memengaruhi faktor lain.
d.
Kemampuan
untuk mengurai kerumitan dan menelusuri proses. Studi kasus dapat secara
efektif menggambarkan peristiwa/situasi rumit dan multi-faktor dan menelusuri
proses sepanjang ruang dan waktu.
e.
Kalibrasi.
Studi kasus menyebabkan peneliti dapat menyesuaikan konsep abstrak yang menjadi
pengalaman hidup yang dapat diandalkan dan standar-standar yang jelas.
f.
Elaborasi
holistik. Studi kasus dapat memerinci seluruh situasi atau proses secara
holistik dan memungkinkan penggabungan beberapa perspektif atau sudut pandang.
2.6.3
Etnografi Kritis
Etnografi kritis adalah jenis penelitian etnografi di
mana penulis tertarik memperjuangkan emansipasi kelompok yang terpinggirkan
dalam masyarakat (Thomas dalam
Creswell, 2015:942). Peneliti kritis biasanya berfikir dan mencari melalui penelitian
mereka, melakukan advokasi terhadap ketimpangan dan dominasi (Carspecken &
Apple dalam Creswell, 2012: 943). Sebagai contoh, ahli etnografi
kritis meneliti sekolah yang menyediakan fasilitas
untuk siswa tertentu, menciptakan situasi
yang tidak adil di antara anggota kelas sosial yang berbeda, dan membiarkan diskriminasi gender.
Komponen utama dari etnografi kritis adalah
faktor-faktor, seperti nilai-sarat orientasi,
memberdayakan masyarakat dengan memberikan kewenangan yang lebih menantang
status quo, dan kekhawatiran tentang kekuasaan dan kontrol (Madison dalam Creswell, 2015: 943). Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Menyelidiki
tentang masalah sosial kekuasaan, pemberdayaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan,
dominasi, represi, hegemoni, dan korban.
b. Para
peneliti melakukan etnografi kritis sehingga penelitian mereka tidak semakin meminggirkan individu yang
sedang dipelajari. Dengan demikian, para penanya berkolaborasi, aktif
berpartisipasi, dan bekerjasama dalam penulisan laporan akhir. Para peneliti
etnografi kritis diharapkan untuk berhati-hati dalam memasuki dan meninggalkantempat penelitian, serta memberikan feed back.
c. Para
peneliti etnografi memberikan pemahaman secara sadar, mengakui bahwa
interpretasi mencerminkan sejarah dan budaya kita sendiri.
Interpretasi dapat hanya bersifat sementara dan tergantung bagaimana partisipan
akan melihatnya.
d. Peneliti kritis memposisikan diri dan sadar akan peran mereka dalam penulisan laporan penelitian.
e. Posisi
ini tidak netral bagi peneliti kritis, hal ini berarti bahwa etnografi kritis
akan menjadi pembela perubahan untuk membantu mengubah masyarakat kita sehingga
tidak ada lagi yang tertindas dan terpinggirkan.
f. Pada
akhirnya, laporan etnografi kritis akan menjadi berantakan, multilevel,
multimetode pendekatan untuk penyelidikan, penuh kontradiksi, tak terpikirkan,
dan ketegangan (Denzin, dalam Creswell, 2015:
944).
2.7
Ciri-ciri atau Karakteristik Penelitian Etnografi
Menurut Creswell (2015:946) beberapa karakter yang bisa
menggambarkan penelititan etnografi, diantaranya yaitu tema budaya, kelompok
berbagi budaya, pola perilaku bersama, keyakinan dan bahasa, penelitian
lapangan, keterangan atau pengaturan, dan refleksi peneliti.
2.7.1
Tema Budaya
Etnografer biasanya mempelajari tema budaya yang berasal dari antropologi budaya. Etnografer tidak berani meneliti
sembarangan apa yang mereka lihat. Sebaliknya, mereka tertarik menambah
pengetahuan tentang budaya dan mempelajari tema spesifik dari budaya tertentu. Tema budaya dalam
etnografi bersifat umum dan tidak dimaksudkan untuk mempersempit
penelitian, sebaliknya menjadi lensa yang memperluas pandangan
peneliti pada saat awal memasuki lapangan untuk mempelajari kelompok,
dan mereka mencari manifestasi dari hal tersebut.
Tema-tema budaya dapat ditemukan dari teks-teks pengantar
antropologi budaya (Wolcott dalam Creswell, 2015: 946), menemukan
melalui kamus konsep antropologi budaya dan pendekatan lain
adalah untuk menemukan tema budaya dalam studi etnografi dalam pendidikan. Biasanya penulis
mengumumkannya dalam judul atau pada awal laporan penelitian.
2.7.2
Kelompok Budaya (Culture Sharing Group)
Etnografer mempelajari kelompok
budaya di satu lokasi. Dalam mempelajari suatu kelompok, etnografer
mengidentifikasi satu situs (misalnya, ruang kelas SD), mencari kelompok di
dalamnya (misalnya, kelompok membaca), dan mengumpulkan data tentang kelompok
(misalnya, mengamati saat kegiatan membaca). Ini membedakan etnografi
dari bentuk-bentuk penelitian kualitatif lainnya (misalnya, penelitian narasi) yang berfokus pada individu,
bukan kelompok. Sebuah kelompok budaya dalam etnografi
adalah dua atau lebih individu yang telah berbagi perilaku, keyakinan, dan
bahasa.
Kelompok-kelompok seperti ini biasanya memiliki
karakteristik tertentu. Sebuah kelompok dapat bervariasi dalam ukuran, tetapi
individu-individu dalam kelompok perlu bertemu secara teratur dan berinteraksi
selama periode waktu (misalnya, 2 minggu sampai 4 bulan) untuk mengembangkan
pola-pola berperilaku, berpikir, atau berbicara. .Kelompok ini sering mewakili
kelompok yang lebih besar, seperti kelompok membaca dalam kelas kelas tiga.
Seringkali, ahli etnografi mempelajari
kelompok yang asing bagi mereka untuk bisa melihat mereka dalam cara yang
“segar” dan berbeda, seolah-olah mereka sangat luar biasa dan unik"
(LeCompte dkk, dalam Creswell, 2015: 946).
2.7.3
Pola-pola Tingkah Laku, Keyakinan, dan Bahasa
Etnografer
mencari pola tingkah laku, keyakinan, dan bahasa dari suatu kelompok yang
telah mengadopsi suatu budaya dari waktu ke waktu. Tujuan untuk menemukan
pola-pola tingkah laku, keyakinan, dan bahasa yang dimiliki bersama ini
mengimplikasikan dua poin penting. Pertama, kelompok yang diteliti
harus memiliki/menganut pola-pola bersama yang dapat dideteksi oleh peneliti.Kedua,
setiap anggota kelompok yang diteliti sama-sama mengadopsi setiap tingkah laku,
keyakinan, dan bahasa maupun kombinasi ketiga unsur itu. Pola
tersebut dalam etnografi terdiri atas interaksi sosial yang cenderung tetap
sebagai aturan yang dipahami dan merupakan tujuan bersama, dan salah satu dari
kombinasi dari tingkah laku, keyakinan, dan bahasa.
a. Tingkah laku: tindakan yang
dilakukan oleh seorang individu dalam sebuah kelompok/latar kultural.
b. Keyakinan: bagaimana
individu berfikir tentang atau memahami sesuatu dalam sebuah latar kultural
c. Bahasa: bahasa dalam etnogafi merujuk pada bagaimana individu
berbicara dengan orang lain dalam sebuah latar cultural
2.7.4
Penelitian
Lapangan (Fieldwork)
Etnografer
mengumpulkan data dengan menghabiskan
waktu di tempat di
mana mereka tinggal, bekerja, atau bermain. Untuk memahami pola terbaik dari suatu kelompok
budaya, etnografer menghabiskan waktu yang cukup lama dengan kelompok tersebut.
Pola-pola tersebut tidak
dapat dengan mudah dilihat melalui kuesioner atau dengan pertemuan singkat.
Sebaliknya, etnografer pergi "ke lapangan," tinggal bersama atau
sering mengunjungi orang-orang yang sedang dipelajari, dan perlahan-lahan
belajar cara-cara budaya di mana kelompok berperilaku atau berpikir. “Lapangan” (field) dalam etnografi berarti
bahwa peneliti mengumpulkan data dalam lingkungan di mana partisipan berada dan di
mana pola-pola budaya dapat dipelajari. Data-data yang dikumpulkan etnografer dibedakan ke
dalam tiga jenis, yaitu:
a) Data
Emic
Informasi yang diberikan langsung oleh
para partisipan. Data
ini sering disebut sebagai konsep-konsep tingkat pertama, yang berbentuk bahasa
lokal, pemikiran-pemikiran, cara-cara berekspresi yang dimiliki/digunakan
secara bersama-sama oleh para partisipan (Schwandt dalam Creswell, 2015:951)
b) Data
Etic
Informasi berbentuk
interpretasi peneliti yang dibuat sesuai dengan perspektif para partisipan.
Data ini sering disebut sebagai konsep-konsep tingkat kedua, yaitu
ungkapan-ungkapan atau terminologi yang dibuat peneliti untuk menyatakan
fenomena yang sama dengan yang diungkapkan para partisipan (Schwandt
dalam Creswell, 2015:951).
c) Data
Negoisasi
informasi yang disetujui bersama oleh para partisipan dan peneliti untuk
digunakan dalam penelitian. Negoisasi dapat terjadi dalam tahapan yang
berbeda-beda selama pelaksanaan penelitian, seperti saat menyetujui prosedur
memasuki lokasi penelitian, saling menghormati, dan mengembangkan rencana untuk
memberikan informasi kembali (Miller dalam Creswell,
2015: 592).
2.7.5
Deskripsi,
Tema, dan Interpretasi
Peneliti etnografi
mendeskripsikan dan menganalisis kelompok budaya dan membuat interpretasi
tentang pola dari segala yang dilihat dan didengar. Selama pengumpulan data,
etnografer mulai membentuk sebuah penelitian. Kegiatan ini terdiri dari
menganalisis data untuk deskripsi dari individu dan tempat kelompok budaya,
menganalisa pola perilaku, keyakinan, dan bahasa, dan mencapai beberapa
kesimpulan tentang makna dari mempelajari orang-orang dan lokasi/tempat
(Wolcott, dalam Creswell, 2015:954).
Dalam etnografi deskripsi diartikan
sebagai uraian terperinci tentang individu-individu atau lapangan penelitian
yang digunakan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada kelompok yang
diteliti. Deskripsi tersebut harus terperinci dan menyeluruh. Deskripsi harus
mampu menggugah seluruh indera pembaca sehingga mereka merasa
seolah-olah hadir di lapangan penelitian dan berinteraksi dengan
parapartisipan..
Perbedaan antara
deskripsi dan tema kadang kadang sulit dibuat. Yang dapat dijadikan untuk
menentukan tema adalah bahwa tema dihasilkan dari interpretasi atas fakta-fakta tentang
orang dan aktivitas. Fungsi tema adalah untuk membuat informasi atau fakta
bermakna. Dalam etnografi, tema-tema yang dihasilkan selalu mengungkapkan
pola-pola tingkah laku, pikiran, atau bahasa yang dimiliki secara bersama-sama
oleh para partisipan.
Interpretasi dalam etnografi yaitu etnografer menarik
kesimpulan tentang apa yang telah dipelajari. Fase analisis adalah yang paling
subjektif. Peneliti terkait dengan diskripsi dan tema dari apa yang telah
dipelajari, yang sering merefleksikan beberapa kombinasi dari peneliti untuk
membuat penilaian pribadi, kembali ke literatur tentang tema budaya, dan
menimbulkan pertanyaan lebih lanjut berdasarkan data . Hal ini juga mungkin
termasuk dalam hal menangani masalah yang muncul selama kerja lapangan yang
membuat hipotesa sementara.
2.7.6
Konteks atau Ranah
Peneliti menyajikan deskripsi, tema, dan
interpretasi dalam konteks atau dari kelompok budaya. Konteks dalam
etnografi adalah pengaturan, situasi, atau lingkungan yang mengelilingi
kelompok/budaya yang dipelajari. Hal ini berlapis-lapis dan saling
terkait, yang terdiri dari faktor-faktor seperti sejarah, agama, budaya,
politik, ekonomi, dan lingkungan (Fetterman dalam Creswell, 2015:957). Konteks juga bisa berupa lokasi fisik (seperti sebuah sekolah, keadaan gedung,
warna dinding kelas, atau suara yang ada), sejarah seperti pengalaman yang berkesan, kondisi kepribadian
seseorang, dan kondisi sosial
individu seperti profesi, pendapatan, mobilitas geografis. Kondisi
ekonomi juga dapat mencakup tingkat pendapatan, kelas pekerja, atau sistem
pendanaan seseorang.
2.7.7
Refleksivitas Peneliti
Dalam etnografi,
refleksivitas merujuk pada kesadaran dan keterbukaan peneliti untuk membahas
bagaimana dia dapat menjalankan perannya sambil tetap menghargai dan
menghormati lapangan dan para partisipan. Karena penelitian etnografi menuntut
peneliti tinggal dalam jangka waktu yang relatif lama di lapangan, peneliti
harus memikirkan dampaknya terhadap lapangan dan para partisipan. Itulah
sebabnya mengapa peneliti harus bernegoisasi dengan orang-orang penting di
lapangan ketika akan memasuki lapangan itu. Dalam penulisan laporan, peneliti
juga menyadari bahwa interpretasi yang dibuatnya dipengaruhi oleh latar
belakang budayanya sendiri sehingga interpretasi dan kesimpulannya bersifat
tentatif sehingga tetap terbuka untuk didiskusikan kembali. Oleh karena itu,
dalam laporan itu peneliti perlu menunjukkan posisi dan sudut pandang yang
digunakannya dalam menginterpretasi(Denzin, dalam Creswell 2015:957). Menjadi reflektif juga berarti bahwa kesimpulan
penulis bersifat tentatif (sementara)
tidak meyakinkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan baru. Penelitian ini
mungkin diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan
yang meminta jawaban atau beberapa pandangan dari sudut pandang pembaca untuk
mempertimbangkannya.
Sedangkan menurut Nobuo Shimahara (dalam
Gall dkk, 2003:486) mengidentifikasi tiga karakteristik utama dari penelitian
etnografi, yaitu:
1.
Fokus dalam menemukan pola budaya dalam perilaku
manusia
2.
Fokus pada perpektif emic dari partisipan/budaya
3.
Fokus mempelajari setting alami di mana budaya
diwujudkan
2.8 Masalah Etik Potensial dalam Melaksanakan Penelitian
Etnografi
Isu-isu etika merupakan keprihatinan, dilema dan konflik yang
timbul mengenai cara yang tepat untuk melakukan penelitian. Menurut Neuman,
etika mendefinisikan berbagai perbuatan yang sah atau tidak sah, atau moral
yang dilibatkan dalam prosedur penelitian. Dalam penelitian, banyak isu etis
yang menuntut peneliti untuk menyeimbangkan dua nilai: mengejar pengetahuan
ilmiah dan hak-hak dari mereka yang dipelajari atau dari pihak lain dalam
masyarakat (2013: 162)
Usman dan Akbar menyatakan bahwa dalam sebuah penelitian ada
beberapa etika yang harus ditaat oleh para peneliti, yaitu (1) bidang yang diteliti
sesuai dengan keahlian peneliti; (2) peneliti harus merahasiakan semua
informasi yang diperoleh dari responden, karena itu nama-nama responden
dituliskan dalam bentu kode-kode inisial; (3) peneliti tidak menuntut responden
bertanggung jawab atas informasi yang telah disampaikan; (4) peneliti tidak
memaksakan kehendaknya agar responden memberikan informasi kepadanya; (5)
peneliti tidak mengubah-ubah informasi responden dengan pengertian yang berbeda
atau bertolak belakang atau mengganti angka-angka di dalam tabulasi data yang
berbeda dengan angka-angka responden sebenarnya (2004: 3).
Masalah etika dalam
etnografi muncul terutama ketika peneliti melakukan kerja lapangan, yaitu saat
peneliti mengumpulkan data. Madison (dalam Creswell, 2015: 958)
mengingatkan peneliti dengan sebuah pertanyaan “apa implikasi moral dan
etika saat melakukan penelitian lapangan?”. Etika dalam etnografi terkait
tantangan-tantangan di lapangan yang memerlukan negosiasi bagaimana untuk
mendapatkan akses ke orang-orang dan tempat yang akan dipelajari, berapa lama
akan bertempat tinggal, apakah rekaman pembicaraan sehari-hari atau pembicaraan
wawancara yang diambil, dan bagaimana cara berinteraksi dengan saling menghormati
(Ryen dalam Creswell, 2015: 959).
Menurut Madison (dalam Creswell, 2015:959) etika
dalam penelitian etnografi antara lain yaitu:
1. Etnografer harus terbuka dan transparan tentang pengumpulan data.
Harus menyampaikan tentang tujuan penelitian, dampak yang mungkin ditimbulkan,
sumber-sumber pendanaan.
2. Peneliti harus mempelajari orang-orang atau tempat-tempat dengan
rasa hormat, menghindarkan dari bahaya, menjaga martabat mereka, dan memastikan
privasi mereka terjaga.
3. Peneliti dan peserta perlu menegosiasikan batas yang berkaitan
dengan faktor-faktor ini.
4. Peneliti etnografi juga mempunyai tanggung jawab terhadap
komunitas ilmiah, seperti tidak menipu salah satu peserta atau pembaca
(misalnya memanipulasi data, mengarang bukti, memalsukan, menjiplak) atau tidak
melaporkan kesalahan.
5. Penelitian harus dilakukan dengan rasa hormat agar
peneliti lain tidak dilarang memasuki lingkungan kelompok tersebut di masa yang
akan datang.
6. Peneliti harus memberikan umpan balik dan memberikan imbalan
kepada mereka yang diteliti yang adil dan mungkin memberikan sesuatu yang
sedang dibutuhkan
7.
Peneliti
juga harus menyadari potensi dampak negatif dari presentasi dan
publikasi mereka yang mungkin ada pada populasi yang diteliti.
2.9
Prosedur Siklus
Penelitian Etnografi
Menurut Spradey (dalam Emzir, 2013: 157- 167) prosedur
penelitian etnografi bersifat siklus, bukan bersifat urutan linier dalam
penelitian ilmu sosial. Prosedur siklus penelitian etnografi dapat dilihat pada
gambar siklus penelitian etnografi berikut.
Prosedur
siklus penelitian etnografi menurut Spradey mencakup enam langkah berikut.
1. Pemilihan Suatu Proyek Etnografi
Siklus dimulai dengan pemilihan suatu proyek
etnografi. Peneliti pertama-tama mempertimbangkan ruang lingkup dari
penyelidikannya. Ruang lingkup penelitian dapat berjarak sepanjang satu
kontinum dari etnografi makro ke etnografi mikro. Berikut ini kontinum dan unit
sosial yang pernah diteliti peneliti etnografi.
|
Scope of Research
|
Social Units Studied
|
|
Macro-Ethnography
|
Complex Society
|
|
|
Multiple Communities
|
|
|
A Single Community Study
|
|
|
Multiple Social Intitutions
|
|
|
A Single Social Intitutions
|
|
|
Multiple Social Situations
|
|
Micro-Ethnography
|
A Single Social Situations
|
2. Pengajuan Pertanyaan Etnografi
Pekerjaan lapangan Etnografi dimulai ketika Anda
mulai mengajukan pertanyaan etnografi. Hal ini memperlihatkan bukti yang cukup
ketika pelaksanaan wawancara, tetapi observasi yang sangat sederhana dan entri
catatan lapangan pun melibatkan pengajuan pertanyaan. Dalam sebuah etnografi
seseorang dapat mengajukan sub-sub pertanyaan yang berhubungan dengan (a) suatu deskripsi tentang konteks, (b)
analisis tentang tema-tema utama, dan (c) interpretasi perilaku kultural .
3. Pengumpulan Data Etnografi
Tugas utama kedua dalam siklus penelitian etnografi
adalah pengumpulan data etnografi. Dengan cara observasi partisipan, Anda akan
mengamati aktivitas orang, karakteristik fisik situasi sosial, dan apa yang
akan menjadi bagian dari tempat kejadian.Anda akan memulai dengan melakukan
observasi deskriptif secara umum, mencoba memperoleh suatu tinjauan terhadap
situasi sosial dan yang terjadi di sana. Kemudian setelah perekaman dan
analisis data awal Anda, Anda dapat mempersempit penelitian Anda dan mulai
melakukan observasi ulang di lapangan, Anda akan mampu mempersempit penyidikan
Anda untuk melakukan observasi selektif.
4. Pembuatan Suatu Rekaman Etnografi
Pada tahap
ini mencakup pengambilan catatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta,
dan penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi Anda. Rekaman etnografi
ini membangun sebuah jembatan antara observasi dan analisis. Analisi Anda
sebagian besar akan sangat bergantung pada apa yang telah Anda rekam.
5. Analisis Data Etnografi
Dalam
penelitian etnigrafi, analisis adalah suatu proses penemuan pertanyaan. Anda
perlu menganalisis catatan-catatan lapangan Anda setelah setiap periope
pekerjaan lapangan untuk mengetahui apa yang akan dicari dalam periode
berikutnya dalam observasi partisipan. Terdapat empat jenis analisis, yaitu
analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema
budaya. Analisis domain, yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari
objek penelitian atau situasi sosial. Melalui pertanyaan umum dan rinci
peneliti menemukan berbagai kategori atau domain tertentu sebagai pijakan
penelitian selanjutnya. Analisi taksonomi, yaitu menjabarkan domain-domain yang
dipilih menjadi lebih rinci untuk mengetahui struktur internalnya. Hal ini dilakukan
dengan melakukan pengamatan yang lebih fokus. Analisis komponensial, yaitu
mencari ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan cara mengontraskan
antarelemen. Hal ini dilakukan dengan observasi dan wawancara terseleksi
melalui pertanyaan yang mengontraskan. Analisis tema budaya, yaitu mencari
hubungan di antar domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang selanjutnya
dinyatakan ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.
6. Penulisan sebuah Etnografi
Tugas utama
terakhir dalam siklus penelitian etnografi muncul ke arah akhir proyek
penelitian. Walaupun demikian, itu dapat pula mengarah pada
pertanyaan-pertanyaan baru dan observasi-observasi lebih lanjut. Penulisan
sebuah etnografi memaksa penyelidikan ke dalam suatu jenis analisis yang lebih
intensif. Penelitian etnografi melibatkan suatu open-ended inquiry;
memerlukan umpan balik yang konstan
untuk memberikan arah penelitian. Peneliti etnografi hanya dapat merencanakan
dari awal perjalanan penyelidikan mereka dalam pengertian yang paling umum.
Setiap tugas utama dalam tindakan siklus penelitian sebagai sebuah kompas untuk
memelihara Anda di perjalanan.
Selain Spradey, beberapa ahli juga
telah mengusulkan berbagai pedoman, seperti Fetterman, LeCompte dan Shcensul,
dan Wilcott (dalam Creswell, 2015: 962-963) sebagai berikut.
|
Prosedur untuk Melakukan Etnografi Realis, Studi Kasus, dan
Etnografi Kritis
|
|||
|
Prosedur
|
Etnografi Realis
|
Studi Kasus
|
Etnografi Kritis
|
|
Identifikasi maksud Anda, rancangan
yang sesuai, dan bagaimana hubungan
maksud Anda dengan permasalahan penelian Anda
|
Permasalahannya berkaitan dengan
kelompok berbudaya-sama dan bagaimana kerjanya. Permasalahannya memerlukan
deskripsi terperinci tentang kehidupan sehari-hari orang. Permasalahannya
berhubungan dengan memahami tema budaya. Identifikasi tema budaya Anda.
|
Permasalahannya berhubungan dengan
mengembangkan pemahaman mendalam tentang sebuah “kasus” atau bounded
system. Permasalahannya berhubungan dengan memahani sebuah kejadian,
kegiatan, proses, atau seorang individu atau lebih.
Indentifikasi tipe “kasusnya”,
misalnya intrinsik, instrumental, atau kolektif.
|
Permasalahannya berkaitan dengan
kebutuhan untuk mengatasi ketidakadilan di masyarakat kita atau di sekolah.
Permasalahannya membutuhkan tindakan dan advokasi. Identifikasi masalah
“kritisnya” (misalnya ketidaksetaraan yang ingin Anda eksplorasi.
|
|
Diskusikan bagaimana Anda
merencanakan untuk menerima persetujuan dan mendapatkan akses ke tempat dan
partisipan penelitian.
|
Menerima persetujuan dari dewan
peninjau institusional. Temukan tempat penelitian dengan menggunakan prosedur
Purposefull Sampling. Identifikasi seorang gate keeper untuk
menyediakan akses. Berikan jaminan untuk menghormati tempat penelitian.
|
Menerima persetujuan dari dewan
peninjau institusional. Temukan tempat penelitian dengan menggunakan prosedur
Purposefull Sampling. Identifikasi berapa kasus yang akan Anda
rencakan untuk diteliti. Identifikasi seorang gate keeper untuk
menyediakan akses. Berikan jaminan untuk menghormati tempat penelitian.
|
Menerima persetujuan dari dewan
peninjau institusional. Temukan tempat penelitian dengan menggunakan prosedur
Purposefull Sampling. Identifikasi seorang gate keeper untuk
menyediakan akses. Berikan jaminan untuk menghormati tempat penelitian.
|
|
Kumpulkan data yang tepat, yang
menekankan waktu di lapangan, multisumber informasi, dan kolaborasi.
|
Gunakan ekstensif di tempat
penelitian dan bersama kelompok berbudaya-sama. Memasuki tempatnya dengan
perlahan-lahan dan bangun erat rapport. Rencanakan untuk membalas budi
untuk data yang disediakan. Beri penekanan pada observasi dan buat catatan
lapangan.
|
Kumpulkan data ekstensif dengan
menggunakan multibentuk pengumpulan data (observasi, koma, dokuman, dan bahan
audio-visual).
|
Berkolaborasilah dengan partisipan
dengan melibatkan mereka secara aktif dalam pengumpulkan data. Kumpulkan
multidata yang diberikan sukarela oleh individu.
|
|
Analisis dan interpretasi data Anda
dalam suatu rancangan.
|
Baca datanya dengan cermat untuk
mengembangkan pemahaman secara keseluruhan tentangnya. Kembangkan deskripsi
terperinci tentang ranah budayanya untuk menetapkan suatu konteks untuk
kelompok yang diteliti. Kembangkan tema tentang kelompok budaya-sama. Buatlah
interpretasi dengan mempertimbangkan tema budaya yang Anda teliti.
|
Baca datanya dengan cermat untuk
mengembangkan pemahaman secara keseluruhan tentangnya. Deskripsikan
kasus-kasus secara terperinci dan tetapkan konteks untuknya. Kembangkan
masalah atau tema tentang kasus-kasus bila lebih dari satu kasus yang
diteliti, pertimbangkan analisis dalam kasus yang diikuti oleh analisis
lintas kasus.
|
Baca datanya dengan cermat untuk
mengembangkan pemahaman secara keseluruhan tentangnya. Kembangkan deskripsi
terperinci tentang ranah budayanya untuk menetapkan suatu konteks untuk
kelompok yang diteliti. Kembangkan tema yang berkaitan dengan masalah
“kritis” yang dieksplorasi dalam etnografi. Identifikasi perubahan yang perlu
terjadi, advokasikasikan perubahan tertentu, dan kemukakan rencana untuk
perubahan.
|
|
Tulis dan laporkan penelitian Anda
sesuai dengan rancangan Anda.
|
Laporkan sebagai suatu penelitian
objektif. Sebagai peneliti, tetap berada di latar belakang dalam laporan
tertulis. Singkirkan bias-bias Anda. Identifikasi bagaimana eksplorasi tema
budaya Anda akan memajukan pengetahuan.
|
Laporkan terutama berdasarkan deskripsi
tentang kasus atau timbang apakah deskripsi, analisis, atau interpretasinya
akan berbeda atau sama bobotnya. Pilih untuk objektif atau subjektif dalam
pelaporan. Masukan bias-bias Anda. Generalisasikan ke kasus lain.
|
Laporkan sebagai imbauan untuk bertindak
untuk mengatasi masalah “kritis” yang sedang anda teliti. Masukan rencana
tindakan tertentu untuk perubahan berdasarkan temuan Anda.
Diskusikan bagaimana Anda, maupun
mereka yang telah Anda teliti, berubah. (bersikap refleksif)
|
2.10
Langkah-langkah dalam Melaksanakan Penelitian Etnografi
Di balik pendekatan Spradley yang sangat terstruktur, Creswell
(2015:964) mengajukan serentetan langkah yang menyajikan sebuah template umum
ketimbang prosedur tetap untuk melaksanakan etnografi. Disamping itu,
pertimbangan-pertimbangan dari para etnografer sendiri dan para peneliti studi
kasus berbeda secara prosedural, dan akan dibandingkan untuk mencari kesamaan
dan perbedaan diantara ketiga bentuk etnografi: realis, studi kasus, dan
kritis..
2.10.1
Mengidentifikasi Maksud dan Tipe rancangan, dan Mengaitkan
Maksud dengan Permasalahan Penelitian
Langkah-langkah pertama dan yang paling penting dalam melakukan
penelitian adalah mengidentifikasi kenapa anda melakukan penelitian, rancangan
bentuk apa yang anda akan gunakan, dan bagaimana tujuan anda terkait dengan
masalah penelitian anda. Faktor-faktor ini perlu diidentifikasi dalam ketiga
bentuk etnografi dan studi kasus. Tujuan penelitian anda dan tipe masalah yang
anda ingin teliti akan secara signifikan berbeda, tergantung pada apakah
anda akan melakukan penelitian etnografi realis, studi kasus atau kritis.
Dalam
etnografi realis, fokusnya diletakkan pada pemahaman tentang kelompok berbudaya
sama dan dengan menggunakan kelompok tersebut, pemahaman yang lebih mendalam
terhadap tema budaya akan dapat dikembangkan. Kelompok berbudaya sama boleh
jadi keseluruhan sekolah atau sebuah ruang kelas. Tema-temanya boleh jadi
mencakup topik-topik seperti enkulturasi, akulturasi, sosialisasi, pendidikan
terlembagakan, pembelajaran dan kognisi, dan perkembangan anak dan orang dewasa
(LeCompte dkk, dalam Creswell, 2015:964).
Untuk studi kasus, terfokus pada pengembangan
pemahaman yang mendalam tentang suatu kasus, seperti peristiwa, aktivitas, atau
proses. Dalam dunia pendidikan, ini sering mencakup kajian tentang seorang
individu atau beberapa orang individu, seperti para siswa atau para guru.
Pertimbangan penting yang tak boleh dilupakan adalah bagaimana anda mengunakan
kasus tersebut, seperti menilai secara instrinsik manfaat memahami sebuah isu,
atau memberikan informasi atau membandingkan beberapa kasus.
Dalam etnografi kritis, tujuannya berubah secara dramatis dari
tujuan-tujuan yang digunakan di dalam etnografis realis atau proyek studi
kasus. Seorang etnografer kritis berupaya menjawab masalah-masalah terkait
dengan ketidaksederajatan di dalam masayarakat atau sekolah, merancang untuk
menggunakan penelitian, guna memberikan advokasi dan mengupayakan adanya
perubahan, secara khusus mengidentifikasi isu-isu spesifik (seperti
ketidaksederajatan, dominasi, penindasan, atau pemberdayaan) untuk diteliti.
2.10.2
Mendiskusikan Pertimbangan tentang Persetujuan dan Akses
Dalam langkah ini, ketiga jenis rancangan mengikuti prosedur
yang sama. Peneliti perlu mendapatkan persetujuan dari badan pemberi
izin.Peneliti juga perlu mengidentifikasi jenis sampling bertujuan yang
ada dan yang paling relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam proses
ini, identifikasi situs penelitian dan kemudian identifikasi pula penjaga (gate
keeper) yang bisa memberikan akses pada anda ke situs dan para partisipan.
Dalam semua penelitian, harus menghormati dan menghargai
situs/tempat penelitian, secara aktif merancang penelitian untuk terus
melakukan kerja sama timbal balik dengan para indvidu di lokasipenelitian. Ini
bermakna bahwa anda menjamin dan menjaga agar situs tidak terganggu secara
berlebihan dan mengikuti praktek-praktek etika yang baik seperti menjamin
privasi dan anonimitas, tidak menipu para individu, dan memberitahukan kepada
semua partisipan tentang tujuan penelitian anda.
2.10.3
Menggunakan Prosedur Pengumpulan Data yang Tepat
Pada Tabel 15.4 dapat dilihat bahwa ketiga rancangan ini
memiliki ciri yang sama, dengan penekanan pada pengumupulan data yang ekstensif
sekali, menggunakan prosedur majemuk dalam pengumpuan data, keterlibatan secara
aktif semua partisipan dalam proses penelitian.
Dalam etnografi realis,
karena peneliti akan menghabiskan banyak waktu dengan para individu
di lapangan, (misalnya sampai 4 bulan atau lebih), anda perlu memasuki situs
secara berangsur-angsur dan sedapat mungkin secara tidak kentara (unobtrusive) . Membangun hubungan (rapport)
dengan penjaga dan partisipan-partisipan kunci penting sekali
untuk kontak yang berjangka panjang. Dalam laporan-laporan etnografi realis,
penekanan diberikan pada pembuatan catatan-catatan lapangan dan pengamatan
terhadap “cultural scence” (pemandangan budaya). Wawancara dan artifak
seperti gambar, reliks, dan simbol-simbol juga merupakan bentuk-bentuk data
yang penting. Data apa saja yang bisa membantu mengembangkan pemahaman yang
mendalam tentang pola-pola yang diayomi bersama oleh kelompok budaya tertentu
akan sangat bermanfaat.
Dalam studi kasus, tujuan
penelitian adalah untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang
sebuah kasus atau sebah isu, dan para peneliti mengumplkan sebanyak-banyaknya
jenis data demi mengembangkan pemahaman ini.
Dalam etnografi kritis,
pengumpulan data kurang terfokus pada waktu di lapangan atau pada jangkauan
data dan lebih pada kolaborasi aktif antara para peneliliti dan partisipan
selama penelitian. Karena tujuan dari etnografi kritis adalah untuk membantu
membawa perubahan yang berpengaruh terhadap kehidupan para partisipan, para
partisipan perlu terlibat dalam memahami diri mereka sendiri dan
langkah-langkah apa yang harus diambil untuk meningkatkan kesederajatan mereka,
untuk memberikan pemberdayaan, atau untuk mengurangi ketertindasan yang mereka
alami. Kolaborasi tersebut boleh jadi melibatkan para partisipan dalam
merancang penelitian, merumuskan masalah penelitan, mengumpulkan data, atau
menganalisis data yang sudah terkumpul. Ia boleh jadi juga mencakup pelibatan
partisipan secara aktif menulis laporan akhir penelitian bersama-sama dengan
anda.
2.10.4
Menganalisis dan Menginterpretasi Data dalam Suatu Rancangan
Dalam semua rancangan
etnografi, peneliti akan terlibat dalam proses pengembangan
deskripsi, analisis data dalam rangka menemukan tema-tema, dan memberikan
interpretasi dalam rangka memaknai informasi. Ini merupakan prosedur yang biasa
dilalui dalam analisis dan interpretasi pada semua penelitian kualitatif.
Walaupun demikian, perbedaan tipe rancangan penelitian etnografi bervariasi
dalam pendekatannya terhadap prosedur tersebut.
Dalam etnografi kritis, anda perlu mempertimbangkan keseimbangan
antara deskripsi, analisis, dan interpretasi sehingga masing-masingnya menjadi
unsur yang penting dalam analisis anda. Selanjutnya, anda bisa mendisukusikan
di dalam interpretasi anda tersebut bagaimana anda memahami tema-tema kultural,
secara aktif melakukan refleksi tentang informasi yang ditemui di dalam bahan
kepustakaan, dan mengajukan gagasan bagaimana penelitian anda memberikan
kontribusi terhadap pemahaman tema kulural dimaksud. Dalam studi kasus, sekali
lagi analisis mengikuti deskripsi, analisis, dan interpretasi, akan tetapi
prosedur analisis bervarasi tergantung pada apakah anda meneliti kasus tunggal
atau kasus jamak. Prosedur studi kasus untuk kasus jamak adalah menganalisis
masing-masing kasus secara terpisah dan kemudian melakukan analisis antar studi
kasus (Stake dalam Creswell, 2015:966) untuk mengidentifikasi
tema-tema umum dan tema-tema yang berbeda di antara kasus-kasus tersebut
masing-masing.
2.10.5
Menulis Laporan yang Konsisten dengan Rancangan
Etnografi realis ditulis sebagai sebuah laporan informasi yang
objektif tentang kelompok berbudaya sama. Pandangan pribadi dan bias anda
akan tetap berada di latar belakang, pembicaraan pada akhir laporan akan
menandakan bagaimana penelitian itu memberikan kontribusi terhadap pengetahuan
berkenaan dengan tema kultural yang didasarkan pada pemahaman terhadap
pola-pola yang sama dalam bertingkah laku, berpikir dan berbahasa dari kelompok
berbudaya sama itu. Walaupun demikian, studi kasus boleh jadi memberi penekanan
pada deskripsi yang rinci tentang suatu kasus. Anda menuliskan sebuah studi
kasus secara keseluruhan dalam rangka memberikan fokus terhadap deskripsi
ketimbang pengembangan tema, seperti studi kasus deskriptif yang dilakukan oleh
Stake (1995) tentang “Harper School”. Studi kasus yang lain menyeimbangkan
antara deskripsi dan tema, seperi studi kasus“gunman incident” oleh
Asmussen dan Crewell (1995). Salah satu faktor tambahan yang membedakan antara
studi kasus dari rancangan etnografi yang lain adalah penulis boleh berdiskusi
dalam rangka membuat generalisasi temuan-temuan terhadap kasus-kasus yang lain,
terutama apabila si peneliti mengkaji stud-studi kasus jamak. Walaupun para
peneliti kualitatif merasa enggan membuat generalisasi terhadap temuan-temuan
penelitian mereka, penggunaan studi-studi kasus jamak memberikan beberapa
kemampuan untuk mengidentifikasi temuan-temuan yang bersifat umum bagi semua
kasus dengan menggunakan analisis antar kasus. Apabila ini terjadi, para
peneliti sudi kasus bisa menyarankan bahwa temuan-tmuan mereka bisa digeneralisasikan,
akan tetapi klaim mereka dibaut secara lebih moderat.
Dalam
etnografis kritis, para peneliti mengakhiri laporan penelitian mereka dengan
isu “kritis” yang tadinya telah mengawali penelitian tersebut, dan kemudian
mendiskusikan bagaimana mereka dan para partisipan berubah atau mengambil
manfaat dari penelitian tersebut. Termasuk ke dalam “call for action”
(ajakan untuk berbuat) oleh para etnografer kritis boleh jadi merupakan
refleksi tentang perubahan-perubahan yang mereka dan para partisipan telah
alami. Tanpa diragukan lagi, dalam semua bentuk penelitian, para peneliti
berubah, akan tetapi para etnografer kritis , sebagai para peneliti yang mawas
diri, memberi penekanan pada bagaimana mereka dan para partisipan berubah.
2.11
Instrumen Pengumpul Data Etnografi
Selama penelitian lapangan, etnografer menggunakan berbagai
teknik untuk mengumpulkan data. Adapun instrumen pengumpul data pada
penelitian etnografi selengkapnya adalah sebagai berikut.
2.11.1 Wawancara Mendalam (Indepth
Interview)
Merupakan serangkaian
pertanyaan yang diajukan peneliti kepada subjek penelitian. Mengingat
karakter etnografi yang naturalistik, maka bentuk pertanyaan atau wawancara
yang dilakukan merupakan pertanyaan terbuka dan sifatnya mengalir, meski
demikian untuk menjaga fokus penelitian ada baiknya seorang peneliti memiliki
panduan wawancara yang sifatnya fleksibel. Setiap wawancara yang dilakukan,
peneliti harus memperdalamnya dengan cara membuat catatan hasil wawancara dan
observasi. Karena itu, kegiatan wawancara akan selalu menghasilkan pertanyaan
baru yang sifatnya memperdalam apa yang telah diterima dari subjek penelitan.
Dalam konteks memperdalam data, proses wawancara dapat dilakukan secara spontan
maupun terencana.
2.11.2 Observasi Partisipan (Participant
Observation)
Untuk mengetahui secara detail langsung
bagaimana budaya yang dimiliki individu atau sekelompok masyarakat maka seorang
peneliti etnografi harus menjadi “orang dalam”. Menjadi “orang dalam” akan
memberi keuntungan peneliti dalam menghasilkan data yang sifatnya natural.
Peneliti akan mengetahui dan memahami apa saja yang dilakukan subjek
penelitian, perilaku keseharian, kebiasaan -kebiasaan yang dilakukan
keseharian, hingga pada pemahaman terhadap simbol-simbol kehidupan subjek
penelitian dalam keseharian yang bisa jadi orang lain tidak memahami apa
sebenarnya simbol itu. Menjadi orang dalam memberikan akses yang luar biasa
bagi peneliti untuk menguak semua hal tanpa sedikitpun halangan, karena
subjek penelitian akan merasa kehadiran peneliti tak ubahnya sebagai bagian
dari keluarganya, sehingga tidak ada keraguan dan hambatan bagi subjek untuk
berperilaku alami, sebagaimana layaknya dia hidup dalam keseharian. Namun
demikian, menjadi orang dalam melalui kegiatan observasi partisipan tidak
menjadikan peneliti larut hingga tidak bisa membedakan dirinya dengan diri
subjek penelitian. Posisi inilah yang harus benar-benar dijaga dalam
melakukan riset etnografi.
2.11.3 Diskusi Kelompok Terarah (Focus
Group Discussion)
Merupakan kegiatan diskusi bersama antara peneliti dengan subjek
penelitian secara terarah. Dalam konteks ini sebenarnya kemampuan peneliti
untuk menyajikan isu atau tema utama, mengemasnya dan kemudian mendiskusikan
serta mengelola diskusi itu menjadi terarah dalam arti proses diskusi tetap
berada dalam wilayah tema dan tidak terlalu melebar apalagi sampai menyertakan
emosi subjek secara berlebihan menjadi kata kunci dari
proses diskusi yang baik. Diskusi kelompok terarah ini bisa diawali
dengan pemilihan anggota diskusi yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
peneliti, ataupun dapat saja dilakukan dengan secara acak, namun tetap
memperhatikan kekuatan masing-masing peserta diskusi, mulai dari tingkat
pendidikan, intelektualitas, pengalaman bahkan keseimbangan gender. Dengan
penetapan ini, merupakan langkah untuk menghindari ketimpangan atau dominannya
satu kelompok atau individu dalam sebuah diskusi. Kemudian, dilanjutkan dengan
tema yang akan diusung peneliti, dan diskusikan secara bersama. Proses inilah yang
kemudian oleh peneliti dicatat secara rinci untuk kemudian dijadikan dasar
pijak untuk memperdalam dan memperkaya data etnografi.
2.11.4 Sejarah
Hidup (Life history)
Merupakan catatan panjang dan rinci sejarah hidup subjek
penelitian. Melalui catatan sejarah hidup ini peneliti etnografi akan memahami
secara detail apa saja yang menjadi kehidupan subjek penelitian dan
faktor-faktor yang mempengaruhinya termasuk budaya yang ada di lingkungannya.
Catatan sejarah hidup, menghendaki kemampuan peneliti untuk jeli dalam melihat
setiap detail kehidupan seseorang, sehingga tergambar dengan jelas bagaimana
jalan kehidupan subjek penelitian dari lahir hingga dewasa sehingga
terketemukan peristiwa-peristiwa penting yang menjadi titik balik (turning
point) dalam sejarah kehidupan subjek penelitian. Meski hampir sama dengan
pola autobiografi, namun terdapat perbedaan terutama pada upaya yang lebih kuat
dalam penulisan untuk menghindari subjektivitas penulis.
2.11.5 Analisis
Dokumen (Document analysis).
Analisis dokumen diperlukan untuk menjawab pertanyaan menjadi
terarah, di samping menambah pemahaman dan informasi penelitian. Mengingat di lokasi
penelitian tidak semua memiliki dokumen yang tersedia, maka ada baiknya seorang
peneliti mengajukan pertanyaan tentang informan-informan yang dapat membantu
untuk memutuskan apa jenis dokumen yang mungkin tersedia. Dengan kata lain
kebutuhan dokumen bergantung peneliti, namun peneliti harus menyadari
keterbatasan dokumen, dan bisa jadi peneliti mencoba memahami dokumen yang tersedia,
yang mungkin dapat membantu pemahaman.
2.12
Kriteria untuk Mengevaluasi Penelitian Etnografi
Kriteria untuk mengevaluasi etnografi dimulai dengan menerapkan
standar yang digunakan dalam penelitian kualitatif, kemudian faktor-faktor
tertentu harus dipertimbangkan dengan benar. Setelah itu faktor-faktor
khusus perlu dipertimbangkan dengsemestinya dalam etnografi. Berdasarkan
Fetterman dan Walcott (dalam Creswell, 2015: 969-970), etnografi yang baik
dapat dievaluasi dengan menggunakan kriteria sebagai berikut.
1.
Peneliti
mengidentifikasi suatu kelompok berbudaya-sama atau suatu kasus yang diteliti.
2.
Etnografer
memfokuskan pada memahami sebuah konsep budaya.
3.
Peneliti
mencoba mempelajari bagaimana kelompok berbudaya-sama menetapkan pola perilaku,
bahasa, dan kepercayaan dari waktu ke waktu.
4.
Etnografer
menganalisis multisumber data, termasuk wawancara dan observasi untuk
pola-pola.
5.
Entografer
menyajikan analisis melalui deskripsi, pengembangan tema, dan interpretasi
tentang bagaimana kelompok berbudaya-sama itu bekerja sama.
6.
Peneliti
merefleksikan tentang perannya di dalam penelitian dan bagaimana hali itu
membentuk interpretasinya.
2.13
Kelebihan dan Kelemahan
Etnografi
Gall (2003:494-495) menemukan beberapa kelebihan dan kelemahan
dari penelitian etnografi sebagai berikut.
2.13.1
Kelebihan
Salah satu aspek yang paling berharga yang dihasilkan dari
penelitian etnografi adalah kedalamannya. Karena peneliti berada untuk waktu
yang lama, peneliti melihat apa yang dilakukan orang serta apa yang mereka
katakan. Peneliti dapat memperoleh pemahaman yang mendalam tentang orang-orang,
organisasi, dan konteks yang lebih luas. Peneliti lapangan mengembangkan
keakraban yang intim dengan dilema, frustrasi, rutinitas, hubungan, dan risiko
yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kekuatan yang mendalam dari
etnografi adalah yang paling “mendalam” atau “intensif”. Dari pengetahuan
tentang apa yang terjadi di lapangan dapat memberikan informasi penting untuk
perumusan asumsi penelitian. Secara singkat kelebihan pengunaan penelitian
etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai berikut:
a.
Menghasilkan
pemahaman yang mendalam. Karena yang dicari dalam penelitian ini bukan hal yang
tampak, melainkan yang terkandung dalam hal yang nampak tersebut
b.
Mendapatkan
atau memperoleh data dari sumber utama yang berarti memiliki tingkat falidasi
yang tinggi.
c.
Menghasilkan
deskripsi yang kaya, penjelasan yang spesifik dan rinci
d.
Peneliti
berinteraksi langsung dengan masyarakat sosial yang akan diteliti.
e.
Membantu
kemampuan beinteraksi karena menuntut kemampuan bersosialisasi dalam budaya
yang ia coba untuk dijelaskan.
2.13.2 Kelemahan
Salah satu kelemahan utama penelitian etnografi adalah bahwa
dibutuhkan lebih lama waktu daripada bentuk penelitian lainnya. Tidak hanya
membutuhkan waktu lama untuk melakukan kerja lapangan, tetapi juga memakan
waktu lama untuk menganalisis materi yang diperoleh dari penelitian. Bagi
kebanyakan orang, ini berarti tambahan waktu. Kelemahan lain dari penelitian
etnografi adalah bahwa lingkup penelitiannya tidak luas. Etnografi sebuah studi
biasanya hanya satu organisasi budaya. Bahkan keterbatasan ini adalah kritik
umum dari penelitian etnografi, penelitian ini hanya mengarah ke pengetahuan
yang mendalam konteks dan situasi tertentu. Secara singkat kelemahan pengunaan
penelitian etnografi dijelaskan di bawah ini, sebagai berikut:
a.
Perspektif
pengkajian kemungkinan dipengaruhi oleh kecenderungan budaya peneliti.
b.
Membutuhkan
jangka waktu yang panjang untuk mengumpulkan data dan mengelola data.
c.
Pengaruh
budaya yang diteliti dapat mepengaruhi psikologis peneliti, ketika peneliti
kembali kebudaya asalnya.
d.
Peneliti
yang tidak memiliki kemampuan sosialisasi, terdapat kemungkinan penolakan, dari
masyarakat yang akan diteliti.
BAB
III
KESIMPULAN
Etnografi adalah rancangan yang berguna untuk mempelajari
kelompok di bidang pendidikan; perilaku, keyakinan, dan bahasa mereka; dan
bagaimana mereka mengembangkan pola-pola berinteraksi yang sama dari waktu ke
waktu. Penelitian etnografi adalah rancangan kualitatif untuk mendeskripsikan,
menganalisis, dan menginterpretasi pola suatu kelompok yang berbudaya yang
sama. Budaya adalah istilah luas yang digunakan untuk mencakup seluruh perilaku
dan kepercayaan manusia. Biasanya, kajian ini mencakup kajian tentang bahasa,
ritual, struktur, tahap kehidupan, interaksi, dan komunikasi.
Penelitian etnografi memiliki beragam bentuk. Akan tetapi,
jenis utama yang sering muncul dalam laporan-laporan penelitian pendidikan
adalah etnografi realis, studi kasus, dan etnografi kritis. Etnografi
realis adalah pandangan objektif terhadap situasi, biasanya ditulis dalam sudut
pandang orang ketiga, melaporkan secara objektif mengenai informasi yang
dipelajari dari para objek penelitian di lokasi. Studi kasus merupakan salah
satu bagian penting dari etnografi, meskipun berbeda dari etnografi dalam
beberapa hal tertentu. Peneliti studi kasus terfokus
pada program, kejadian, atau kegiatan yang
melibatkan individu dan bukan merupakan kelompok. Etnografi kritis adalah jenis penelitian etnografi di
mana penulis tertarik memperjuangkan emansipasi kelompok yang terpinggirkan
dalam masyarakat. Komponen utama dari etnografi kritis
adalah faktor-faktor seperti nilai-sarat orientasi, memberdayakan masyarakat dengan
memberikan kewenangan yang lebih, menantang status quo, dan kekhawatiran
tentang kekuasaan dan control.
Dalam
pelaksanaannya, Etnografer mengunjungi lapangan, mengumpulkan data ekstensif
melalui prosedur seperti observasi dan wawancara, dan menulis potret budaya
kelompok dalam ranahnya. Peneliti menelaah pola-pola perilaku, keyakinan, dan
bahasa yang sama yang telah berkembang seiring waktu dengan melibatkan diri
dalam lapangan kerja, seperti mengobservasi dan mewawancarai. Setelah
mengumpulkan informas, analisis datanya terdiri atas mendeskripsikan,
menganalisis, dan menginterpretasikan. Sebagian peneliti, ketika melaksanakan
etnografi kritis, akan mengidentifikasi berbagai perubahan yang perlu terjadi
dan akan secara aktif mengadcokasikan dan membuat rencana untuk itu. Ketika
menulis laporan penelitian final, etnografer dan penulis studi kasus menerapkan
praktik yang konsisten dengan rancangannya, misalnya bersikap objektif atau
advokatif, menggeneralisasikan temuan, dan mendiskusikan bagaimana dirinya dan
partisipan berubah selama proses penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Cresswell, Jhon W. 2015. Riset
Pendidikan: Perencanaan, Pelaksanaan,
dan Evaluasi Riset Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Emzir. 2013. Metodologi
Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif . Jakarta: Rajawali Pers.
Gall, M.D., Gall, J.P. and Borg, W.R.2003. Educational Research: An Introduction, Seventh Edition. New York: Pearson education Inc.
Ikbar, Yanuar. 2012. Metode
Penelitian Sosial Kualitatif Panduan. Bandung: PT Refika Aditama.
Neuman, W. Lawrence.
2013. Metodologi Penelitian Sosial
Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif Edisi 7. Jakarta: PT Indeks.
Somekh, Bridget &
Lewin, Cathy. 2011. Theory and Methods in Social Research Second Edition.
London: SAGE Publcications Ltd.
Spradley, J.P. 2007. Metode
Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Usman, Husaini.&
Akbar, Purnomo Setiady.2004. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi
Aksara.